Budidaya Jamur Pangan - Jenis Jamur yang dapat di Konsumsi
Jamur pangan atau jamur konsumsi adalah sebutan untuk berbagai jenis jamur yang biasa dijadikan bahan makanan, enak dimakan, bisa berupa produk hasil budidaya atau panen dari alam bebas karena teknik budidaya belum diketahui. Selain rasanya yang enak, jamur pangan ergosterol peroksida, sejenis sterol yang mampun menghambat pertumbuhan sel kanker usus besar.
Jamur liar di alam bebas dilarang keras untuk dimakan kalau tidak bisa membedakan ciri-ciri jamur beracun dengan jamur liar yang bisa dikonsumsi. Berbagai jenis jamur juga memiliki rasa yang tidak enak, walaupun tidak beracun dan bisa dimakan
.....
Beberapa contoh jamur pangan
Jamur kancing atau champignon (Agaricus bisporus)
Jenis jamur yang paling banyak dibudidayakan di dunia, sekitar 38% dari total produksi jamur dunia.
Jamur tiram atau hiratake (Pleurotus sp.)
Sekitar 25% dari total produksi jamur dunia berupa jamur tiram. Tiongkok merupakan produsen jamur tiram yang utama.
Jamur merang (Volvariella volvaceae)
Sekitar 16% dari total produksi jamur dunia berupa jamur merang.
Jamur shiitake (Lentinus edodes)
Paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. Sekitar 10% dari total produksi jamur dunia berupa jamur shiitake.
Jamur kuping
Jamur yang banyak dipakai untuk masakan Tionghoa, terdiri dari jamur kuping putih (Tremella fuciformis), jamur kuping hitam (Auricularia polytricha) dan jamur kuping merah (Auricularia auricula-judae)
Jamur enokitake (Flammulina velutipes)
Dikenal juga sebagai jamur musim dingin (winter mushroom)
Jamur maitake (Grifola frondosa)
Mengeluarkan aroma harum kalau dimasak, dikenal dalam bahasa Inggris sebagai hen of the woods.
Jamur matsutake (Tricholoma matsutake (S.Ito et Imai) Sing.)
Jamur langka yang belum berhasil dibudidayakan dan diburu di hutan pinus wilayah beriklim sejuk. Dipanen pada musim gugur dan merupakan jamur berharga sangat mahal di Jepang.
Jamur truffle (Tuber magnatum, Tuber aestivum, Tuber melanosporum, dan Tuber brumale)
Jamur langka yang sulit ditemukan, sehingga menemukannya butuh bantuan anjing dan babi yang memiliki penciuman tajam. Jamur truffle adalah jamur termahal di dunia (artikel dari The Telegraph) , digunakan dalam jumlah sedikit sebagai penyedap pada masakan Perancis seperti masakan Foie gras.
Jamur Ling zhi (Ganoderma lucidum)
.......
Jenis Jamur Konsumsi
Jamur pangan atau jamur konsumsi adalah sebutan untuk berbagai jenis jamur yang biasa dijadikan bahan makanan, enak dimakan dan tidak mengandung racun yang berbahaya bagi kesehatan, bisa berupa produk hasil budidaya atau panen dari alam. Beberapa jenis jamur masih harus dipetik dari alam bebas karena teknik budidaya belum diketahui.
Jamur liar di alam bebas dilarang keras untuk dimakan kalau tidak bisa membedakan ciri-ciri jamur beracun dengan jamur liar yang bisa dikonsumsi. Berbagai jenis jamur juga memiliki rasa yang tidak enak, walaupun tidak beracun dan bisa dimakan.
1. Jamur Kancing atau Champignon (Agaricus bisporus)
Jamur kancing merupakan jenis jamur yang paling banyak dibudidayakan di dunia, sekitar 38% dari total produksi jamur dunia. Jamur kancing (Agaricus bisporus) atau champignon merupakan jamur pangan yang berbentuk hampir bulat seperti kancing dan berwarna putih bersih, krem, atau coklat muda. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai table mushroom, white mushroom, common mushroom atau cultivated mushroom. Di Perancis disebut sebagai champignon de Paris.
Jamur kancing dijual dalam bentuk segar atau kalengan, biasanya digunakan dalam berbagai masakan Barat seperti omelet, pizza, kaserol, gratin, dan selada. Jamur kancing memiliki aroma unik, sebagian orang ada yang menyebutnya sedikit manis atau seperti “daging”.
Jamur kancing segar bebas lemak, bebas sodium, serta kaya vitamin dan mineral, seperti vitamin B dan potasium. Jamur kancing juga rendah kalori, 5 buah jamur ukuran sedang sama dengan 20 kalori.
2. Jamur Tiram (Pleurotus sp.)
Tiongkok merupakan produsen jamur tiram yang utama. Sekitar 25% dari total produksi jamur dunia berupa jamur tiram. Jamur tiram/shimeji dikenal pula dengan nama populer Oyster Mushroom dan nama ilmiah Pleurotus ostreatus. Tangkai tudungnya menyerupai cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem.
Ada beberapa jenis jamur tiram yaitu jamur tiram putih, jamur tiram merah jambu, jamur tiram kelabu, dan jamur tiram coklat. Jamur tiram yang dikenal paling enak dan paling disukai masyarakat sehingga paling banyak dibudidayakan ialah jamur tiram putih.
Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang.
Budidaya jamur ini tergolong sederhana. Jamur tiram biasanya dipelihara dengan media tanam serbuk gergaji steril yang dikemas dalam kantung plastik.
3. Jamur Merang (Volvariella volvaceae)
Sekitar 16% dari total produksi jamur dunia berupa jamur merang. Jamur merang (Volvariella volvacea, sinonim: Volvaria volvacea, Agaricus volvaceus, Amanita virgata atau Vaginata virgata) atau kulat jeramoe dalam bahasa Aceh merupakan salah satu spesies jamur pangan yang banyak dibudidayakan di Asia Timur dan Asia Tenggara yang beriklim tropis atau subtropis. Jamur ini telah lama dibudidayakan sebagai bahan pangan karena spesies ini termasuk golongan jamur yang paling enak rasanya dan mempunyai tekstur yang baik.
4. Jamur Shiitake (Lentinus edodes)
Paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. Sekitar 10% dari total produksi jamur dunia berupa jamur shiitake.
Shiitake disebut juga ‘Chinese Black Mushroom’. Jamur jenis ini sudah dikenal sebagai jamur konsumsi sejak 2000 tahun yang silam di dataran Asia. Produksi jamur Shiitake secara industri massal pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1940an. Namun budidaya secara traditional sudah dimulai sejak 900 tahunan yang silam di Cina.
5. Jamur Kuping
Jamur yang banyak dipakai untuk masakan Tionghoa, terdiri dari jamur kuping putih (Tremella fuciformis), jamur kuping hitam (Auricularia polytricha) dan jamur kuping merah (Auricularia auricula-judae)
Jamur Kuping merupakan jamur yang pertama kali dibudidayakan bahkan sebelum jamur Shiitake di Cina. Di Indonesia jamur Kuping sangat lumrah dikenal di kalangan masyarakat menengah ke bawah setelah jamur merang. Masyarakat tradisional masih sering mengambil jamur ini dari alam yang biasanya tumbuh pada batang-batang yang sudah lapuk. Jamur Kuping terutama jenis jamur kuping hitam (Auricularia polytricha) saat ini sudah banyak dibudidayakan secara modern dalam log-log serbuk kayu.
Menurut data statistik, produksi segar jamur kuping (worldwide) menempati urutan keempat (346.000 ton) setelah Champignon, Tiram dan Shiitake pada tahun 1991.
6. Jamur Enokitake (Flammulina velutipes)
Dikenal juga sebagai jamur musim dingin (winter mushroom). Di wilayah dunia beriklim sejuk, jamur ini tumbuh di alam bebas pada suhu udara rendah mulai musim gugur hingga awal musim semi. Jamur ini juga diketahui tumbuh di bawah salju. Jamur Enokitake biasanya tumbuh di permukaan batang pohon Celtis sinensis (bahasa Jepang: Enoki) yang sudah melapuk, sehingga disebut Enokitake (jamur Enoki).
Jamur Enokitake hasil budidaya bisa dipanen sepanjang tahun. Tubuh buah Enokitake hasil budidaya terlihat beda dari Enokitake yang tumbuh di alam bebas. Jamur hasil budidaya dilindungi dari sinar matahari sehingga berwarna putih, sedangkan jamur di alam bebas berwarna coklat hampir merah jambu.
7. Jamur Maitake (Grifola frondosa)
Mengeluarkan aroma harum kalau dimasak, dikenal dalam bahasa Inggris sebagai hen of the woods.
8. Jamur Matsutake (Tricholoma matsutake (S.Ito et Imai) Sing.)
Jamur langka yang belum berhasil dibudidayakan dan diburu di hutan pinus wilayah beriklim sejuk. Dipanen pada musim gugur dan merupakan jamur berharga sangat mahal di Jepang.
Di Jepang, matsutake adalah bahan makanan mewah yang berharga sangat mahal. Jamur ini memiliki wangi harum yang kuat, dan dimakan setelah dipanggang sedikit di atas api, ditanak bersama beras menjadi nasi matsutake (matsutake gohan), dan sebagai campuran dobinmushi (sup dalam teko).
9. Jamur Truffle (Tuber magnatum, Tuber aestivum, Tuber melanosporum, dan Tuber brumale)
Jamur langka yang sulit ditemukan, sehingga menemukannya butuh bantuan anjing dan babi yang memiliki penciuman tajam. Jamur truffle adalah jamur termahal di dunia (artikel dari The Telegraph) , digunakan dalam jumlah sedikit sebagai penyedap pada masakan Perancis seperti masakan Foie gras.
10. Jamur Ling zhi (Ganoderma lucidum)
Menurut sejarah Cina, ling zhi ditemukan oleh seorang petani bernama Seng Nong. Ia dijuluki sebagai petani yang suci (holyfarmer). Seng Nong menyatakan, kriteria unggul nilai atau manfaat dari sebuah tanaman obat adalah bila dikonsumsi dalam jangka waktu lama tidak menimbulkan efek samping. Pada zaman Dinasti Shu, sekitar 2400 tahun lalu, ling zhi hanya dikonsumsi untuk pengobatan para maharaja dan bangsawan di negeri Cina. Pada masa itu, ling zhi masih langka.
Sejak tahun 1971, seorang peneliti dari Universitas Kyoto, Jepang, bernama Yukio Naoi mulai membudidayakan ling zhi. Melalui eksperimen-eksperimennya, akhirnya ia berhasil menemukan cara menumbuhkan ling zhi menggunakan limbah pertanian dan kayu-kayu yang telah lapuk.
Ling zhi memiliki sifat rasa pedas, pahit, dan hangat. Mengonsumsi ramuan dari ling zhi memiliki efek bersifat melindungi organ tubuh, membangun (constructive), mengobati, dan berdampak positif terhadap penyembuhan organ lain yang sakit. Sejauh ini belum pernah ditemukan efek negatif yang ditimbulkan setelah mengonsumsi ramuan ling zhi.
Dari berbagai penelitian yang dilakukan di berbagai negara, ling zhi berkhasiat sebagai herbal anti-diabetes, anti-hipertensi, anti-alergi, antioksidan, anti-[inflamasi], anti-hepatitis, analgesik, anti-HIV, serta perlindungan terhadap liver, ginjal, hemoroid atau wasir, anti-tumor, dan sistem imunitas (kekebalan tubuh).
============
Membuat Bibit Jamur Merang
Banyak variasi makanan yang menggunakan jamur merang sebagai bahan utamanya. Jangan heran kalau jamur merang ini selalu dicari. Kita bisa menemui menu masakan seperti cah jamur saus tiram atau mie ayam jamur di setiap restoran atau rumah makan. Produksi jamur merang ini terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Oleh karena itu berbagai cara dilakukan untuk membuat bibit jamur merang agar selalu siap ditanam setiap saat.
membuat bibit jamur merang, parasit, sekam padi, wadah pembibitan, media tanam
============
Jamur pangan atau jamur konsumsi adalah sebutan untuk berbagai jenis jamur yang biasa dijadikan bahan makanan, enak dimakan dan tidak mengandung racun yang berbahaya bagi kesehatan, bisa berupa produk hasil budidaya atau panen dari alam. Beberapa jenis jamur masih harus dipetik dari alam bebas karena teknik budidaya belum diketahui.
Jamur liar di alam bebas dilarang keras untuk dimakan kalau tidak bisa membedakan ciri-ciri jamur beracun dengan jamur liar yang bisa dikonsumsi. Berbagai jenis jamur juga memiliki rasa yang tidak enak, walaupun tidak beracun dan bisa dimakan
Pada saat ini jamur pangan banyak ditekuni sebagai bisnis baik berskalau besar maupun sebagai bisnis tambahan oleh beberapa keluarga.
Jamur Tiram
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) atau jamur tiram putih adalah jamur pangan dengan tudung berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem.
Tubuh buah memiliki batang yang berada di pinggir (bahasa Latin: pleurotus) dan bentuknya seperti tiram (ostreatus), sehingga jamur tiram mempunyai nama binomial Pleurotus ostreatus. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii atau King Oyster Mushroom.
Tubuh buah mempunyai tudung yang berubah dari hitam, abu-abu, coklat, hingga putih dengan permukaan yang hampir licin dengan diameter 5-20 cm. Tepi tudung mulus sedikit berlekuk. Spora berbentuk batang berukuran 8-11×3-4μm. Miselium berwarna putih dan bisa tumbuh dengan cepat.
Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang.
Pembudidayaan jamur tiram biasanya dilakukan dengan media tanam serbuk gergaji.
Selain campuran pada berbagai jenis masakan, jamur tiram merupakan bahan baku obat statin.
Jamur tiram diketahui membunuh dan mencerna nematoda yang kemungkinan besar dilakukan untuk memperoleh nitrogen.
Jamur Merang
Jamur merang (Volvariella volvacea, sinonim: Volvaria volvacea, Agaricus volvaceus, Amanita virgata atau Vaginata virgata) atau kulat jeramoe dalam bahasa Aceh adalah salah satu spesies jamur pangan yang banyak dibudidayakan di Asia Timur dan Asia Tenggara yang beriklim tropis atau subtropis. Sebutan jamur merang berasal dari bahasa Tionghoa cǎogū (Hanzi)
Tubuh buah yang masih muda berbentuk bulat telur, berwarna cokelat gelap hingga abu-abu dan dilindungi selubung. Pada tubuh buah jamur merang dewasa, tudung berkembang seperti cawan berwarna coklat tua keabu-abuan dengan bagian batang berwarna coklat muda. Jamur merang yang dijual untuk keperluan konsumsi adalah tubuh buah yang masih muda yang tudungnya belum berkembang.
Jamur merang dibudidayakan di dalam bangunan rumah kaca yang disebut kumbung. Sesuai dengan namanya, jamur ini memilih merang dan jerami sebagai media alami utama. Menurut penelitian, limbah kapas adalah media yang memberikan hasil produksi dan pertumbuhan yang terbaik bagi jamur merang. Jamur merang dikenal sebagai warm mushroom, hidup dan mampu bertahan pada suhu yang relatif tinggi, antara 30-38°C dengan suhu optimum pada 35°C
Manfaat : Budidaya jamur ini tidak sulit. Panen dilakukan terhadap tubuh buah yang belum sepenuhnya berkembang (masih kuncup), meskipun tubuh buah yang telah membuka payungnya pun masih bisa dikonsumsi walaupun harnga jualnya menurun.
Jamur merang mempunyai rasa enak, gurih, dan tidak mudah berubah wujudnya jika dimasak, sehingga digunakan untuk berbagai macam masakan, seperti mi ayam jamur, tumis jamur, pepes jamur, sup dan capcay.
Sentra produksi jamur merang di Indonesia terdapat di Dataran Tinggi Dieng. Di negara-negara Asia yang membudidayakannya, jamur merang dijual dalam bentuk segar. Di daerah beriklim sejuk hanya tersedia jamur merang kalengan.
Jamur Kuping
Ada tiga jenis Jamur Kuping yang biasa dikonsumsi, yaitu Jamu Kuping Hitam, Jamu Kuping Merah dan Jamu Kuping Putih.
Jamur kuping hitam
Jamur kuping hitam (Auricularia polytricha, sinonim Hirneola polytricha) adalah salah satu spesies jamur dari kelas Heterobasidiomycetes (jelly fungi) dengan tubuh buah berwarna coklat tua setengah bening, berbentuk mangkuk menyerupai daun telinga manusia.
Dalam bahasa Tionghoa, jamur kuping hitam dikenal sebagai (pinyin: yún ěr), (pinyin: máo mù ěr) atau (pinyin: mù ěr). Jamur kuping hitam biasa digunakan dalam masakan Asia.
Tubuh buah menempel di atas batang kayu yang sudah membusuk di tempat basah dan lembab. Sewaktu masih segar terlihat seperti agar-agar (jelly) basah dan bila dikeringkan menjadi mengkerut.
Jamur lebih banyak dijual dalam bentuk kering dan harus direndam didalam air sebelum dimasak. Jamur yang sudah dimasak mempunyai tekstur garing seperti sewaktu memakan tulang muda dan tidak mempunyai rasa. Jamur kuping hitam juga sering digunakan sebagai bahan obat tradisional karena diketahui mempunyai sifat antikoagulan.
Jamur kuping merah
Jamur kuping merah (Auricularia auricula-judae, sinonim Auricularia auricula, Hirneola auricula-judae) adalah salah satu spesies dari kelas Heterobasidiomycetes (jelly fungi) dengan tubuh buah berwarna coklat tua kemerahan dan berbentuk mirip sekali dengan daun telinga manusia.
Tubuh buah bertekstur kenyal dan di alam bebas tumbuh di batang pohon mati yang basah dan lembab.
Jamur kuping merah dalam bentuk kering biasa digunakan dalam berbagai masakan Asia.
Jamur kuping putih
Jamur kuping putih (Tremella fuciformis) adalah salah satu spesies dari kelas Heterobasidiomycetes (jelly fungi) dengan tubuh buah seperti berbentuk rumbai-rumbai tidak beraturan, berwarna putih dan sangat bening seperti agar-agar.
Dalam bahasa Tionghoa, jamur kuping putih dikenal sebagai (pinyin: yin er, "kuping perak") atau (pinyin: bai mu er, "kuping pohon putih").
Tubuh buah tumbuh di permukaan kayu yang sudah lapuk dari pohon yang berdaun lebar. Jamur yang sudah dikeringkan menjadi sangat mengkerut dan harus direndam di dalam air sebelum dimakan.
Jamur lebih banyak dijual dalam bentuk kering dan sering digunakan untuk membuat hidangan pencuci mulut. Jamur kuping putih tidak memiliki rasa dan dimakan karena tekstur yang kenyal seperti jelly dan konon bermanfaat bagi kesehatan.
Jamur Kancing
Jamur kancing (Agaricus bisporus), jamur kompos atau champignon adalah jamur pangan yang berbentuk hampir bulat seperti kancing dan berwarna putih bersih, krem, atau coklat muda. Jamur kancing merupakan jamur yang paling banyak dibudidayakan di dunia.
Dalam bahasa Inggris disebut sebagai table mushroom, white mushroom, common mushroom atau cultivated mushroom. Di Perancis disebut sebagai champignon de Paris, tapi penutur bahasa Inggris sering menyebutnya sebagai champignon yang dalam bahasa Perancis mencakup segala jenis fungi, termasuk jamur pangan, jamur beracun, dan jamur penyebab infeksi.
Jamur kancing dipanen sewaktu masih berdiameter 2-4 cm. Tubuh buah dewasa dengan payung yang sudah mekar mempunyai diameter sampai 20 cm.
Manfaat: Jamur kancing dijual dalam bentuk segar atau kalengan, biasanya digunakan dalam berbagai masakan Barat seperti omelet, pizza, kaserol, gratin, dan selada. Jamur kancing memiliki aroma unik, sebagian orang ada yang menyebutnya sedikit manis atau seperti "daging".
Jamur kancing segar bebas lemak, bebas sodium, serta kaya vitamin dan mineral, seperti vitamin B dan potasium. Jamur kancing juga rendah kalori, 5 buah jamur ukuran sedang sama dengan 20 kalori.
Jamur kancing dimasak utuh atau dipotong-potong lebih dulu. Jamur kancing cepat berubah warna menjadi kecoklatan dan hilang aromanya setelah dipotong dan dibiarkan
di udara terbuka. Jamur kancing segar sebaiknya cepat dimasak selagi masih belum berubah warna.
Shiitake
Shiitake (Lentinula edodes) atau jamur hioko dan sering ditulis sebagai jamur shitake adalah jamur pangan asal Asia Timur yang terkenal di seluruh dunia dengan nama aslinya dalam bahasa Jepang. Shiitake secara harafiah berarti jamur dari pohon shii (Castanopsis cuspidata) karena batang pohonnya yang sudah lapuk merupakan tempat tumbuh jamur shiitake.
Spesies ini dulunya pernah dikenal sebagai Lentinus edodes. Ahli botani Inggris bernama Miles Joseph Berkeley menamakan spesies ini sebagai Agaricus edodes di tahun 1878.
Shiitake banyak dibudidayakan di Tiongkok, Korea dan Jepang dan bisa dijumpai di alam bebas di di daerah pegunungan di Asia Tenggara.
Shiitake dalam bahasa Tionghoa disebut xiānggū (Hanzi: "jamur harum"), sedangkan yang berkualitas tinggi dengan payung yang lebih tebal disebut dōnggū (Hanzi: "jamur musim dingin") atau huāgū ("jamur bunga") karena pada bagian atas permukaan payung terdapat motif retak-retak seperti seperti mekar.
Di Indonesia kadang-kadang dinamakan jamur jengkol, karena bentuk dan aromanya seperti jengkol walaupun bagi sebagian orang rasa jamur ini seperti rasa petai.
Jamur shiitake tumbuh di permukaan batang kayu yang melapuk dari pohon Castanopsis cuspidata, Castanea crenata (berangan), dan sejenis pohon ek Quercus acutissima. Batang dari tubuh buah sering melengkung, karena shiitake tumbuh ke atas dari permukaan batang kayu yang diberdirikan. Payung terbuka lebar, berwarna coklat tua dengan bulu-bulu halus di bagian atas permukaan payung, sedangkan bagian bawah payung berwarna putih.
Jamur beracun spesies Omphalotus guepiniformis terlihat agak mirip dengan jamur shiitake sehingga banyak orang yang tertipu dan keracunan.
Shiitake juga dikenal dengan nama Jamur hitam China, karena aslinya memang berasal dari daratan Tiongkok dan sudah dibudidayakan sejak 1.000 tahun yang lalu. Sejarah tertulis pertama tentang budidaya shiitake ditulis Wu Sang Kuang di zaman Dinasti Song (960-1127), walaupun jamur ini sudah dimakan orang di daratan Tiongkok sejak tahun 199 Masehi.
Di zaman Dinasti Ming (1368-1644), dokter bernama Wu Juei menulis bahwa jamur shiitake bukan hanya bisa digunakan sebagai makanan tapi juga sebagai obat untuk penyakit saluran nafas, melancarkan sirkulasi darah, meredakan gangguan hati, memulihkan kelelahan dan meningkatkan energi chi. Shiitake juga dipercaya dapat mencegah penuaan dini.
Penggunaan dalam masakan
Jamur shiitake segar atau dalam bentuk kering sering digunakan dalam berbagai masakan di banyak negara. Shiitake segar biasanya dimakan sebelum payung bagian bawah berubah warna. Batang shiitake agak keras dan umumnya tidak digunakan dalam masakan.
Sebagian orang lebih menyukai shiitake kering dibandingkan shiitake segar karena shiitake kering mempunyai aroma yang lebih harum (keras). Shiitake kering diproses dengan cara menjemur di bawah sinar matahari dan perlu direndam di dalam air sebelum dimasak. Kaldu dasar masakan Jepang yang disebut dashi didapat dari merendam shiitake kering di dalam air.
Di Jepang, shiitake merupakan isi sup miso, digoreng sebagai tempura, campuran chawanmushi, udon dan berbagai jenis masakan lain. Shiitake juga digoreng hingga garing dan dijual sebagai keripik shiitake.
Rusia juga memproduksi shiitake dalam jumlah banyak dan dijual sebagai acar dalam kemasan botol.
============
Jenis Jamur yang Umum Dikonsumsi
Sore gan, ane mau ulas sedikit tentang jamur nich.
Ini merupakan jamur yang dikonsumsi orang pada umumnya.
Mari kita lihat ada apa aja..cekidot :
Jamur kuping putih
Jamur kuping putih (Tremella fuciformis) adalah salah satu spesies dari kelas Heterobasidiomycetes (jelly fungi) dengan tubuh buah seperti berbentuk rumbai-rumbai tidak beraturan, berwarna putih dan sangat bening seperti agar-agar.
Dalam bahasa Tionghoa, jamur kuping putih dikenal sebagai 银耳 (pinyin: yin er, "kuping perak") atau 白木耳 (pinyin: bai mu er, "kuping pohon putih").
Tubuh buah tumbuh di permukaan kayu yang sudah lapuk dari pohon yang berdaun lebar. Jamur yang sudah dikeringkan menjadi sangat mengkerut dan harus direndam di dalam air sebelum dimakan.
Jamur lebih banyak dijual dalam bentuk kering dan sering digunakan untuk membuat hidangan pencuci mulut.
Jamur kuping putih tidak memiliki rasa dan dimakan karena tekstur yang kenyal seperti jelly dan konon bermanfaat bagi kesehatan.
Jamur kuping
Jamur kuping (Auricularia auricula) merupakan salah satu kelompok jelly fungi yang masuk ke dalam kelas Basidiomycota dan mempunyai tekstur jelly yang unik.
Fungi yang masuk ke dalam kelas ini umumnya makroskopis atau mudah dilihat dengan mata telanjang.
Miseliumnya bersekat dan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: miselium primer (miselium yang sel-selnya berinti satu, umumnya berasal dari perkembangan basidiospora) dan miselium sekunder (miselium yang sel penyusunnya berinti dua, miselium ini merupakan hasil konjugasi dua miselium primer atau persatuan dua basidiospora).
Auricularia auricula umumnya kita kenal sebagai jamur kuping.
Jamur ini disebut jamur kuping karena bentuk tubuh buahnya melebar seperti daun telinga manusia (kuping).
Jamur merang
Jamur merang (Volvariella volvacea, sinonim: Volvaria volvacea, Agaricus volvaceus, Amanita virgata atau Vaginata virgata) atau kulat jeramoe dalam bahasa Aceh adalah salah satu spesies jamur pangan yang banyak dibudidayakan di Asia Timur dan Asia Tenggara yang beriklim tropis atau subtropis.
Sebutan jamur merang berasal dari bahasa Tionghoa cǎogū (Hanzi:草菇).
Jamur tiram
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung.
Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom.
Jamur kancing
Jamur kancing (Agaricus bisporus), jamur kompos atau champignon adalah jamur pangan yang berbentuk hampir bulat seperti kancing dan berwarna putih bersih, krem, atau coklat muda.
Jamur kancing merupakan jamur yang paling banyak dibudidayakan di dunia.
Dalam bahasa Inggris disebut sebagai table mushroom, white mushroom, common mushroom atau cultivated mushroom.
Di Perancis disebut sebagai champignon de Paris, tapi penutur bahasa Inggris sering menyebutnya sebagai champignon yang dalam bahasa Perancis mencakup segala jenis fungi, termasuk jamur pangan, jamur beracun, dan jamur penyebab infeksi.
Jamur kancing dipanen sewaktu masih berdiameter 2-4 cm. Tubuh buah dewasa dengan payung yang sudah mekar mempunyai diameter sampai 20 cm.
Jamur Lingzhi
Menurut sejarah Cina, ling zhi ditemukan oleh seorang petani bernama Shen Nong, dan dicatat dalam bukunya, Shen Nong Herbal Classic.
Ia dijuluki sebagai petani yang suci (holyfarmer).
Seng Nong menyatakan, kriteria unggul nilai atau manfaat dari sebuah tanaman obat adalah bila dikonsumsi dalam jangka waktu lama tidak menimbulkan efek samping.
Pada zaman Dinasti Shu, sekitar 2400 tahun lalu, ling zhi hanya dikonsumsi untuk pengobatan para maharaja dan bangsawan di negeri Cina. Pada masa itu, ling zhi masih langka.
Sejak tahun 1971, seorang peneliti dari Universitas Kyoto, Jepang, bernama Yukio Naoi mulai membudidayakan ling zhi.
Melalui eksperimen-eksperimennya, akhirnya ia berhasil menemukan cara menumbuhkan ling zhi menggunakan limbah pertanian dan kayu-kayu yang telah lapuk.
Jamur hioko/shiitake
Shiitake (椎茸?) (Lentinula edodes) atau jamur hioko dan sering ditulis sebagai jamur shitake adalah jamur pangan asal Asia Timur yang terkenal di seluruh dunia dengan nama aslinya dalam bahasa Jepang.
Shiitake secara harafiah berarti jamur dari pohon shii (Castanopsis cuspidata) karena batang pohonnya yang sudah lapuk merupakan tempat tumbuh jamur shiitake.
Spesies ini dulunya pernah dikenal sebagai Lentinus edodes. Ahli botani Inggris bernama Miles Joseph Berkeley menamakan spesies ini sebagai Agaricus edodes di tahun 1878.
Shiitake banyak dibudidayakan di Tiongkok, Korea dan Jepang dan bisa dijumpai di alam bebas di daerah pegunungan di Asia Tenggara.
Shiitake dalam bahasa Tionghoa disebut xiānggū (Hanzi: 香菇, "jamur harum"), sedangkan yang berkualitas tinggi dengan payung yang lebih tebal disebut dōnggū (Hanzi: 冬菇, "jamur musim dingin") atau huāgū (花菇, "jamur bunga") karena pada bagian atas permukaan payung terdapat motif retak-retak seperti seperti mekar.
Di Indonesia kadang-kadang dinamakan jamur jengkol, karena bentuk dan aromanya seperti jengkol walaupun bagi sebagian orang rasa jamur ini seperti rasa petai.
Matsutake
Matsutake (Tricholoma matsutake(S.Ito et Imai)Sing.) atau jamur pinus adalah nama umum untuk jamur mikoriza langka dari genus Tricholoma familia Tricholomataceae.
Jamur ini belum dapat dibudidayakan, dan tumbuh liar di Cina, Jepang, Korea, Finlandia, dan tempat-tempat lain di dunia.
Pada musim gugur, matsutake tumbuh di permukaan tanah hutan pinus yang ditumbuhi pinus merah jepang, Tsuga diversifolia, pohon runjung Tsuga, dan Pinus pumila.
Kadang-kadang jamur ini juga bisa ditemukan di hutan yang ditumbuhi pinus hitam jepang.
Di beberapa tempat, matsutake juga tumbuh semasa musim hujan Asia Timur.
Pertumbuhan miselium diketahui sangat lambat. Suhu untuk pertumbuhan miselium sekitar 5-30℃, suhu ideal sekitar 22-25℃, pH tanah ideal 4,5-5,5.
Di Jepang, matsutake adalah bahan makanan mewah yang berharga sangat mahal.
Jamur ini memiliki wangi harum yang kuat, dan dimakan setelah dipanggang sedikit di atas api, ditanak bersama beras menjadi nasi matsutake (matsutake gohan), dan sebagai campuran dobinmushi (sup dalam teko).
Showing posts with label Jamur Pangan. Show all posts
Showing posts with label Jamur Pangan. Show all posts
Friday, July 27, 2012
Mushroom Farm
Mushroom Farm
mushroom a producer consumer
Banda Aceh Mushroom Producers and Growers
Banda Aceh Commercial Mushroom Producers
Mushroom Production in Banda Aceh
Mushroom Supplier
Canned Mushroom
Fresh Mushroom
High Quality and Competitive Price
Agriculture and Food
Mushroom made in China
Budidaya Jamur Pangan - Jenis Jamur Konsumsi
.......
Budidaya Jamur Hanya Bertahan 5 Bulan
Jamur merang atau dalam bahasa inggrisnya button mushroom, sangat menarik untuk dibudidayakan karena menurut perhitungan sangat menguntungkan. Tetapi kebanyakan para petani jamur merang tradisional hanya bertahan 5 bulan bahkan kurang dalam menjalani usaha mereka, kenapa ini bisa terjadi? Banyak faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi, jika saya klasifikasikan berdasarkan yang saya tahu saja, penyebab berhentinya usaha budidaya Jamur merang adalah sebagai berikut.
Gagal berproduksi secara menguntungkan apalagi optimal.
Penyebab ini menjadi faktor utama mereka berhenti mencoba bertani jamur secara tradisional, mereka terlalu cepat mengubah pola pola penanaman berdasarkan naluri mereka saja padahal tidak didukung dengan pengetahuan yang cukup ataupun konsultan untuk budidaya jamur merang. Mereka hanya berkomunikasi dengan para pedagang (yang membeli jamur mereka), yang sesungguhnya pedagang ini tidak punya kompetensi atau tidak berkepentingan dengan mengoptimalkan produksi petani untuk memproduksi jamur merang, atau mereka berkomunikasi dengan penjual bibit jamur saja, yang jelas tidak secara serius memperhatikan kondisi petani jamur, yang serba terbatas dan tidak bisa memenuhi semua persyaratan dan tidak melakukan pengawasan secara detail pada para petani jamur.
Bahan Baku tidak tersedia secara kontinyu
Penyebab lain adalah keterbatasan bahan baku. Petani jamur merang hanya terbiasa dengan satu jenis bahan baku untuk menanam jamur merang, padahal ketersediaan bahan baku ini sangat tergantung pada musim, sehingga para petani tidak bisa bertahan untuk berproduksi secara kontinyu. Hal ini sangat mempengaruhi keberlanjutan usaha mereka karena mereka juga bergantung pada tenaga kerja yang bekerja musiman, sehingga pada waktu produksi jamur berhenti maka tenaga kerja ini juga ikut berhenti.
Perubahan Musim Secara Drastis
Petani tradisional jelas tidak bisa berhadapan dengan ini, perubahan musim secara drastis bisa menyebabkan mereka berhenti berproduksi dan bahkan mematikan usaha mereka, yang disebabkan karena banyak faktor yang antara lain juga sudah masuk dalam faktor seperti disebutkan diatas. Produksi tidak menguntungkan, tidak tersedia bahan baku dan tenaga kerja yang berhenti. Sekali mereka berhenti biasanya sangat sulit untuk bangkit lagi karena faktor faktor permodalan dan tenaga kerja sulit untuk diadakan dengan cepat.
Hanya Coba Coba
Yang paling sering berhenti berproduksi dengan cepat adalah faktor ini, petani yang hanya coba coba, padahal banyak sekali faktor untuk sukses dalam bertani jamur, tidak seperti dalam berdagang, coba coba kadang bisa sangat menguntungkan, tapi sangat berbeda dengan usaha jamur merang, coba coba hanya akan buang buang uang saja.
Usaha secara traditional ini harus diperbaiki baik metode maupun sistem management produksi jamur merang agar para petani jamur merang ini bisa bertahan lama.
========
Sabtu, 4 Januari 2003 Jawa Tengah - Muria
http://www.suaramerdeka.com/harian/0301/04/dar20.htm
Tidak Tahu Cirinya, Jangan Dimakan
SEMENTARA BLK Semarang belum dapat menuntaskan penelitian terhadap jamur yang meracuni sebagian warga Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, justru Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus (UMK) telah selesai mengkajinya.
Penelitian itu dilakukan dosen pengampu bidang studi Mikro Biologi Dra Farida Yuliani MSi dibantu Dekan Drs Hendy Hendro HS MSi. Mereka mengadakan penelitian semata-mata lantaran sikap proaktif. "Kampus harus peduli dengan dinamika masyarakat," ujar Hendy.
Dia mengimbau khalayak, "Jangan sekali-kali makan jamur liar bila tidak mengenali ciri-cirinya." Hanya saja, dia mengakui, tidak banyak yang mengetahui cara mengenali jamur beracun (berbahaya untuk dimakan) dan tak beracun (enak dimakan).
Farida menjelaskan, ada beberapa cara untuk mengenali jamur beracun. Antara lain biasanya jamur memiliki tudung berwarna mencolok seperti biru tua, hitam legam, kuning terang, atau orange. Baunya menusuk seperti telur busuk atau amoniak.
Jamur biasanya tumbuh di tempat kotor. Bila dikerat dengan pisau stainless atau logam perak, paparnya, akan menunjukkan perubahan warna pada logam atau pisau tersebut. "Pada kasus jamur beracun di Terban, jamur tidak menunjukkan perubahan warna berarti bila dikerat dengan pisau atau dimasak. Namun sangat lunak bila dimasak. Untuk jamur konsumsi biasanya kenyal jika dimakan."
Jamur yang enak dimakan juga memiliki beberapa ciri, antara lain warna spora cokelat. Misalnya Agaricus campestris, Agoricus rodmani, dan Agaricus bitorquis banyak dibudidayakan di Dieng (Wonosobo) dan Cipanas (Jabar), Pholiota nameko ditanam di Jepang, Volvariella volvaceae (jamur merang), Auricullaria polytrica (hitam), dan Auricullaria judae (merah).
Yang berwarna spora putih antara lain Armilaria (dapat dimakan bila masih muda), Pleurotus sp (jamut tiram cokelat, putih, atau kuning), Tremella fusiformis (jamur kuping putih). Di samping yang penggolongannya masih kacau, yaitu Lentinus edodes (shitake atau jamur payung) yang banyak dibudidayakan di Indonesia.
Jamur Ledok
Tentang jamur yang meracuni 91 warga Terban pada 15 Desember lalu, Farida mengakui pada kenyataannya jamur yang mereka makan memang beracun. Bila spora menempel pada kulit juga sedikit terasa gatal. "Hal itu pernah dialami warga di belakang PG Rendeng yang mengonsumsi jamur yang sama seperti yang dimakan warga Terban.
Di lokasi buangan ledok PG Rendeng (Dukuh Badongan, Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati), tuturnya, terdapat tiga jenis jamur. "Dua jenis dapat dimakan dan satu jenis beracun. Yang beracun sama persis dengan jenis yang ditemukan di lahan tebu dan dimakan warga Terban. Jamur jenis itu di Badongan tak ada yang memetik, sebab warga sekitar sudah mengetahuinya."
Jamur lain yang biasanya tumbuh di areal buangan ledok PG Rendeng dan dikonsumsi warga, jelasnya lebih lanjut, adalah jamur merang (Volvariella volvaceae) dan jamur kecil mirip Coprinus dengan diamater tudung tak lebih 5 cm dan warna kuncup putih memanjang. "Bila kedua jamur itu muncul segera habis diserbu warga karena enak rasanya."
Dia menerangkan, suatu jenis jamur bisa menjadi beracun karena beberapa sebab. Antara lain senyawa metabolit sekunder, yaitu Amatoxin dan Kholin, sangat mematikan dan daya bunuhnya melebihi sianida. Jamur itu dapat merusak sel hati dan ginjal. Biasanya senyawa itu dikandung oleh jamur dari genus Amanita dan Leupita. "Orang sering menyebut jamur upas. Tapi untuk yang jenis Amanita muscana, racunnya dapat dimanfaatkan sebagai insektisida pembunuh lalat."
Juga Muskarin, menyebabkan pusing namun pada dosis 0,03 - 0,05 gram sudah dapat mematikan. Filosibin yang mengakibatkan penderita melamun, dikandung oleh jamur Psilocybe sp P mexicana dapat dimanfaatkan untuk obat sakit jiwa. Senyawa Falin, Atropin dan asam Hervelar, keracunan terjadi empat-enam jam setelah mengonsumsi yang mengakibatkan penderita haus, sakit perut hebat, dan mengeluarkan kotoran encer. (Prayitno-58j)
=======
mushroom a producer consumer
Banda Aceh Mushroom Producers and Growers
Banda Aceh Commercial Mushroom Producers
Mushroom Production in Banda Aceh
Mushroom Supplier
Canned Mushroom
Fresh Mushroom
High Quality and Competitive Price
Agriculture and Food
Mushroom made in China
Budidaya Jamur Pangan - Jenis Jamur Konsumsi
.......
Budidaya Jamur Hanya Bertahan 5 Bulan
Jamur merang atau dalam bahasa inggrisnya button mushroom, sangat menarik untuk dibudidayakan karena menurut perhitungan sangat menguntungkan. Tetapi kebanyakan para petani jamur merang tradisional hanya bertahan 5 bulan bahkan kurang dalam menjalani usaha mereka, kenapa ini bisa terjadi? Banyak faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi, jika saya klasifikasikan berdasarkan yang saya tahu saja, penyebab berhentinya usaha budidaya Jamur merang adalah sebagai berikut.
Gagal berproduksi secara menguntungkan apalagi optimal.
Penyebab ini menjadi faktor utama mereka berhenti mencoba bertani jamur secara tradisional, mereka terlalu cepat mengubah pola pola penanaman berdasarkan naluri mereka saja padahal tidak didukung dengan pengetahuan yang cukup ataupun konsultan untuk budidaya jamur merang. Mereka hanya berkomunikasi dengan para pedagang (yang membeli jamur mereka), yang sesungguhnya pedagang ini tidak punya kompetensi atau tidak berkepentingan dengan mengoptimalkan produksi petani untuk memproduksi jamur merang, atau mereka berkomunikasi dengan penjual bibit jamur saja, yang jelas tidak secara serius memperhatikan kondisi petani jamur, yang serba terbatas dan tidak bisa memenuhi semua persyaratan dan tidak melakukan pengawasan secara detail pada para petani jamur.
Bahan Baku tidak tersedia secara kontinyu
Penyebab lain adalah keterbatasan bahan baku. Petani jamur merang hanya terbiasa dengan satu jenis bahan baku untuk menanam jamur merang, padahal ketersediaan bahan baku ini sangat tergantung pada musim, sehingga para petani tidak bisa bertahan untuk berproduksi secara kontinyu. Hal ini sangat mempengaruhi keberlanjutan usaha mereka karena mereka juga bergantung pada tenaga kerja yang bekerja musiman, sehingga pada waktu produksi jamur berhenti maka tenaga kerja ini juga ikut berhenti.
Perubahan Musim Secara Drastis
Petani tradisional jelas tidak bisa berhadapan dengan ini, perubahan musim secara drastis bisa menyebabkan mereka berhenti berproduksi dan bahkan mematikan usaha mereka, yang disebabkan karena banyak faktor yang antara lain juga sudah masuk dalam faktor seperti disebutkan diatas. Produksi tidak menguntungkan, tidak tersedia bahan baku dan tenaga kerja yang berhenti. Sekali mereka berhenti biasanya sangat sulit untuk bangkit lagi karena faktor faktor permodalan dan tenaga kerja sulit untuk diadakan dengan cepat.
Hanya Coba Coba
Yang paling sering berhenti berproduksi dengan cepat adalah faktor ini, petani yang hanya coba coba, padahal banyak sekali faktor untuk sukses dalam bertani jamur, tidak seperti dalam berdagang, coba coba kadang bisa sangat menguntungkan, tapi sangat berbeda dengan usaha jamur merang, coba coba hanya akan buang buang uang saja.
Usaha secara traditional ini harus diperbaiki baik metode maupun sistem management produksi jamur merang agar para petani jamur merang ini bisa bertahan lama.
========
Sabtu, 4 Januari 2003 Jawa Tengah - Muria
http://www.suaramerdeka.com/harian/0301/04/dar20.htm
Tidak Tahu Cirinya, Jangan Dimakan
SEMENTARA BLK Semarang belum dapat menuntaskan penelitian terhadap jamur yang meracuni sebagian warga Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, justru Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus (UMK) telah selesai mengkajinya.
Penelitian itu dilakukan dosen pengampu bidang studi Mikro Biologi Dra Farida Yuliani MSi dibantu Dekan Drs Hendy Hendro HS MSi. Mereka mengadakan penelitian semata-mata lantaran sikap proaktif. "Kampus harus peduli dengan dinamika masyarakat," ujar Hendy.
Dia mengimbau khalayak, "Jangan sekali-kali makan jamur liar bila tidak mengenali ciri-cirinya." Hanya saja, dia mengakui, tidak banyak yang mengetahui cara mengenali jamur beracun (berbahaya untuk dimakan) dan tak beracun (enak dimakan).
Farida menjelaskan, ada beberapa cara untuk mengenali jamur beracun. Antara lain biasanya jamur memiliki tudung berwarna mencolok seperti biru tua, hitam legam, kuning terang, atau orange. Baunya menusuk seperti telur busuk atau amoniak.
Jamur biasanya tumbuh di tempat kotor. Bila dikerat dengan pisau stainless atau logam perak, paparnya, akan menunjukkan perubahan warna pada logam atau pisau tersebut. "Pada kasus jamur beracun di Terban, jamur tidak menunjukkan perubahan warna berarti bila dikerat dengan pisau atau dimasak. Namun sangat lunak bila dimasak. Untuk jamur konsumsi biasanya kenyal jika dimakan."
Jamur yang enak dimakan juga memiliki beberapa ciri, antara lain warna spora cokelat. Misalnya Agaricus campestris, Agoricus rodmani, dan Agaricus bitorquis banyak dibudidayakan di Dieng (Wonosobo) dan Cipanas (Jabar), Pholiota nameko ditanam di Jepang, Volvariella volvaceae (jamur merang), Auricullaria polytrica (hitam), dan Auricullaria judae (merah).
Yang berwarna spora putih antara lain Armilaria (dapat dimakan bila masih muda), Pleurotus sp (jamut tiram cokelat, putih, atau kuning), Tremella fusiformis (jamur kuping putih). Di samping yang penggolongannya masih kacau, yaitu Lentinus edodes (shitake atau jamur payung) yang banyak dibudidayakan di Indonesia.
Jamur Ledok
Tentang jamur yang meracuni 91 warga Terban pada 15 Desember lalu, Farida mengakui pada kenyataannya jamur yang mereka makan memang beracun. Bila spora menempel pada kulit juga sedikit terasa gatal. "Hal itu pernah dialami warga di belakang PG Rendeng yang mengonsumsi jamur yang sama seperti yang dimakan warga Terban.
Di lokasi buangan ledok PG Rendeng (Dukuh Badongan, Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati), tuturnya, terdapat tiga jenis jamur. "Dua jenis dapat dimakan dan satu jenis beracun. Yang beracun sama persis dengan jenis yang ditemukan di lahan tebu dan dimakan warga Terban. Jamur jenis itu di Badongan tak ada yang memetik, sebab warga sekitar sudah mengetahuinya."
Jamur lain yang biasanya tumbuh di areal buangan ledok PG Rendeng dan dikonsumsi warga, jelasnya lebih lanjut, adalah jamur merang (Volvariella volvaceae) dan jamur kecil mirip Coprinus dengan diamater tudung tak lebih 5 cm dan warna kuncup putih memanjang. "Bila kedua jamur itu muncul segera habis diserbu warga karena enak rasanya."
Dia menerangkan, suatu jenis jamur bisa menjadi beracun karena beberapa sebab. Antara lain senyawa metabolit sekunder, yaitu Amatoxin dan Kholin, sangat mematikan dan daya bunuhnya melebihi sianida. Jamur itu dapat merusak sel hati dan ginjal. Biasanya senyawa itu dikandung oleh jamur dari genus Amanita dan Leupita. "Orang sering menyebut jamur upas. Tapi untuk yang jenis Amanita muscana, racunnya dapat dimanfaatkan sebagai insektisida pembunuh lalat."
Juga Muskarin, menyebabkan pusing namun pada dosis 0,03 - 0,05 gram sudah dapat mematikan. Filosibin yang mengakibatkan penderita melamun, dikandung oleh jamur Psilocybe sp P mexicana dapat dimanfaatkan untuk obat sakit jiwa. Senyawa Falin, Atropin dan asam Hervelar, keracunan terjadi empat-enam jam setelah mengonsumsi yang mengakibatkan penderita haus, sakit perut hebat, dan mengeluarkan kotoran encer. (Prayitno-58j)
=======
Labels:
Jamur Pangan,
Kulat,
Mushroom Farm
